Contoh Pepaccur Ngamai Adok/Adek dalam Adat Pernikahan Masyarakat Lampung

  • Whatsapp

Dialek O:

Amaino “Amai Rajo” (Panggilannya “Amai Raja”)

Bacaan Lainnya

Rajo Mudo (Raja Muda)

Cuakan di mengiyan (Panggilan pada anak mantu (laki-laki)

Nutuk pughatta jak jebei (Mengikuti kebiasaan sejak dulu)

Buyo jemamak sako (Nama simpanan lama)

Sangun kak pepayu gham (Memang telah disisakan)

Anjak kelamomen Sanusi (Dari kakak ibumu Sanusi)

Mak makko sai dibidon (Tidak ada yang dibedakan)

Unyen benulung kaban (Semua anak adikku)

Sebai atau semanei (Wanita atau pria)

Mittegh anjak sai tuho (Mulai dari yang tua)

Tigeh sai sanak sayan (Hingga yang bungsu)

Lagei ghahel sebijei (Masih keturunan satu)

Tagen sino nyato (Agar itu terwujud)

Pinggungken pilih pikighan (Pandai-pandailah berpikir)

Dang nyipang nganan nginghei (Jangan melakukan hal-hal yang sia-sia)

Dang ghajin mak bekeghjo (Jangan rajin tidak bekerja)

Mak dapek sesambilan (Tidak boleh tidak tekun)

Nyo lagei attah diatei (Apalagi seenaknya)

Penjelasan:

Kalau anda perhatikan teks ngamai adek (pepaccur) di atas isinya berupa nasihat yang ditujukan kepada mempelai laki-laki/pria yang baru saja menikah, dan pepaccur ini diberikan saat pemberian gelar (ngamai/ngini adek/adok) yang dilakukan oleh penyimbang.

Dalam upacagha pemberian gelar itu, teks ngamai adek (pepaccur) tidak hanya 3 (tiga) bait seperti contoh, bahkan sampai 12 (dua belas) bait.

Sumber Referensi:

  • Fauzi Fattah dan Sudihartono. 2016. Bahasa dan Aksara Lampung untuk SMA/MA/SMK Kelas 12. Bandar Lampung: Gunung Pesagi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *