Pengertian, Ciri, Fungsi, Macam, dan Contoh Pepaccur, Pepaccogh atau Wawancan

  • Whatsapp
Pengertian, Ciri, Fungsi, Macam, dan Contoh Pepaccur, Pepaccogh atau Wawancan
Pengertian, Ciri, Fungsi, Macam, dan Contoh Pepaccur, Pepaccogh atau Wawancan

Pepaccur/pepaccogh atau wawancan artinya adalah salah satu jenis sastra lisan Lampung berbentuk puisi yang lazim digunakan untuk menyampaikan pesan atau nasihat dalam upacara pemberian gelar adat. Istilah pepaccur dikenal di lingkungan masyarakat Lampung dialek O. Di lingkungan masyarakat Lampung dialek A dikenal dengan istilah pepaccogh (di lingkungan masyarakat Lampung dialek A Sebatin dikenal dengan istilah wawancan).

Sudah menjadi adat masyarakat Lampung bahwa pada saat bujang atau gadis meninggalkan masa remajanya atau pada saat mereka memasuki kehidupan berumah tangga, pasangan pengantin itu diberi gelar adat sebagai penghormatan dan tanda bahwa mereka sudah berumah tangga. Gelar adat ini diterima dari klan bapak dan dari klan ibu, dilakukan di tempat mempelai pria maupun di tempat mempelai wanita. Pemberian gelar dilakukan dalam upacara adat yang dikenal dengan istilah ngamai adek/ngamai adok (jika dilakukan di tempat mempelai wanita), nandekken adek dan inai adek/nandokkon adok ghik ini adok (jika dilakukan di tempat mempelai pria), dan butetah/kebaghan adok/nguwaghkon adok (istilah di lingkungan masyarakat Lampung Sebatin). Setelah gelar diberikan, si penerima gelar diberi nasihat atau pesan-pesan. Nasihat atau pesan-pesan itu disampaikan dalam bentuk puisi yang dikenal dengan istilah pepaccur.

Bacaan Lainnya

Penyampaian pepaccur memerlukan kemampuan khusus karena di dalamnya terkandung unsur seni. Pepaccur disampaikan dengan cara berdendang atau berlagu dengan irama yang harus dapat memikat perhatian pendengar (hal ini merupakan salah satu indikasi bahwa masyarakat tradisional Lampung adalah pencinta seni).

Pepaccur terdiri atas sejumlah bait dan setiap bait terdiri atas empat atau enam baris. Jumlah bait pepaccur tidak ada ketentuan yang mutlak. Jumlah bait itu bergantung pada sedikit atau banyaknya pesan yang disampaikan.

Jika dilihat dari struktur globalnya, pepaccur dapat digolongkan ke dalam puisi tradisional berbentuk syair. Pepaccur tidak mempunyai sampiran, semua baris dalam setiap bait mengandung isi (ini yang membedakannya dengan pattun). Pola sajak akhir (rima) pepaccur tidak tetap. Ada yang berpola ab/ab dan ada pula yang berpola abc/abc .

Pepaccur berfungsi sebagai media penyampaian pesan atau nasihat untuk kedua mempelai dalam upacara pesta pernikahan dan sebagai media untuk melestarikan bahasa dan sastra Lampung. Secara umum, pesan atau nasihat itu berkenaan dengan kehidupan berumah tangga, bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan beragama.

Di bawah ini dikemukakan dua contoh pepaccur/wawancan/pepaccogh (dalam bahasa Lampung dialek O).

Contoh 1:
Adek dan Inai Adek anjak Batangan
Adek sai ragah: Jaya Umpuan Mega
Adek sai sebai : inaino inai rateu, adekno Ratu Mahkota

PEPACCUR:
Syukur alhamdulillah
tigeh judeumeu tano
dendeng segalo badan
Kekalau metei wo tuah
ino sai upo duo
kiluian adek Tuhan

Sijo ngemik amanah
tetujeu di metei wo
anjak kaban kemaman
Cubo dipilah-pilah
ki bakal ngemik guno
akuk jadei anggeuan

Pertamo, beibadah
sembahyang wakteu limo
dang sappai ketinggalan
Kirim munih fatihah
tehadep sai kak meno
kipak sai lagei tengan

Suwo pungeu tengadah
kilui appun duso
serto selamat badan
Najin mak dapek kiwah
cukuplah sederhano
asal mak kekurangan

Baso caluk gham lapah
dageu dang ghaccak bigo
mato ninuk lakkahan
Nyo sai dibo pindah
anjak alam dunio
selain kain kafan

Hubungan gham di luwah
ino perleu dibino
perleu sakai sambayan
Najin kak sumang darah
pagun jugo beguno
tetangga kirei kanan

Tumbuk ulun sai susah
tesambat suwo mahho
unjak ki lagei badan
Pudak selaleu wewah
tehadep sapo jugo

betikkah lakeu sai supan

Adik wagheimeu nayah
sai di nei atau sai di jo
unyen perleu bimbingan
Jadei anak tuho mak mudah
io mustei bijaksano
di lem segalo tindakan

Basing upo masalah
perleu berecako
jamo kaban wewagheian
Najin sepuluh mudah
sebelas gham betanyo
mangi mak salah jalan

Sijo akhir petuah
ingekken dang lupo
akuk jadei anggeuan
Nyo maknono kidah
seghem matei di gulo
pahemken metei sayan

  • Sumber: A. Effendi Sanusi

Terjemah Bebas:

Contoh 1:
Gelar dari orang tua mempelai
Gelar yang pria : Jaya Umpuan Mega
Gelar yang wanita: pangkatnya pangkat ratu, gelarnya Ratu Mahkota

PEPACCUR:
Syukur alhamdulillah
sekarang jodohmu sampai
hadir segenap famili
Semoga kalian bernasib baik
itulah doa kami
kepada Tuhan Yang Mahakuasa

Ini ada beberapa pesan
ditujukan pada kalian berdua
dari para paman
Cobalah dipilah-pilah
andaikan ada gunanya
ambil dan jadikan pegangan (hidup)

Pertama, beribadah
sembahyang lima waktu
jangan sampai ditinggalkan
Kirim pula fatihah
untuk yang telah meninggal
maupun yang masih hidup

Sambil tangan tengadah
mohon ampun dosa
serta mohon keselamatan
Meskipun (hidup) tidak bisa mewah
cukuplah sederhana
asalkan tidak kekurangan

Pada saat kita melangkah
dagu janganlah terlampau tinggi
mata melihat ke bawah
Apa yang dibawa pindah
dari alam dunia
selain kain kafan

Hubungan dengan orang luar
perlu dibina
perlu tolong-menolong
Meskipun bukan famili
masih juga ada gunanya
tetangga kiri kanan

Berjumpa dengan orang takpunya
sapalah dengan baik
apatah lagi jika masih famili
Muka hendaklah selalu cerah
terhadap siapa pun
bertingkah lakulah yang sopan

Adik-adikmu banyak
dari pihak kamu maupun pihak istri
semuanya memerlukan bimbingan
Jadi anak sulung tidaklah mudah
ia harus bijaksana
di dalam segala tindakan

Apa pun masalah yang dihadapi
perlu terbuka dan bermusyawarah
dengan adik beradik
Meskipun (kita) sudah tahu
tidak ada salahnya bertanya
agar tidak salah langkah

Ini akhir petuah
ingat jangan dilupakan
ambil jadikan pegangan
Apakah maknanya
semut mati karena gula
tafsirkan oleh kalian

*

Contoh 2:
Adek dan Inai Adek anjak Batangan
Adek sai ragah: Rajo Mergo
Adek sai sebai : inaino inai rateu, adekno Ratu Mestika

PEPACCUR:
Tano tigeh judeumeu
memugo metei wo rawan
tigeh alam salah nei
Tuah nyepik di kukeu
ules ninding di badan
rezekei tawit milei

Kelamo tutuk lebeu
kemaman serto keminan
penano munih kaban waghei
Unyen ngejungken pungeu
bemuhun adek Tuhan
kekalau metei wo abadei

Sijo panggeh datukmeu
matinaris ketinggalan
panggeh datukmeu Sanusi
Sembahyang limo watteu
puaso bulan Ramadhan
dang sappai dilalaiken metei

Agamo dang sappai lalai
lakunei perittah Tuhan
jawehei sai mak beguno
Adat munih tepakai
mufakat, sakai sambayan
nengah nyimah dang lupo

Lakeu lagei meghanai
mak dapek jadei anggeuan
bareng kak gilir tuho
Ghedik sekelik mustei pandai
tehadep segalo badan
wawaiken budei bahaso

Pandai-pandai memalah
patuh di waghei tuho
uyang najin keminan
Basing upo perittah
dang cawo mak kuwawo
ino pebalahan pattangan

Tehadep kemaman dan keminan
wawaiken puppik penyawo
dang nganggeu masabudeu
Baso wat kelapangan
lapah subuk metei wo
dang nginan watteu perleu

Sesikun ulun ghebei
lagei lak ketinggalan
tigeh di zaman tano
Anggeulah ilmeu paghei
semungguk wat isseian
cemungak tando hapo

  • Sumber: A. Effendi Sanusi

Terjemah Bebas:

Contoh 2:
Gelar dari orang tua mempelai
Gelar yang pria : Rajo Mergo
Gelar yang wanita: pangkatnya pangkat ratu, gelarnya Ratu Mestika

PEPACCUR:
Sekarang jodohmu sampai
semoga kalian bernasib baik
hingga alam akhirat
Tuah menyelinap di kuku
kebahagiaan selalu menyertai
rezeki senantiasa mengalir

Kerabat ibu, kakek, dan nenek
paman beserta bibi
begitu pula segenap famili
Mereka menengadahkan tangan
memohon kepada Tuhan
semoga jodoh kalian abadi

Ini ada pesan kakekmu
nyaris terlupakan
pesan kakekmu Sanusi
Sembahyang lima waktu
puasa pada bulan Ramadhan
jangan sampai kalian lalaikan

Agama jangan sampai dilalaikan
kerjakanlah perintah Tuhan
jauhi yang tiada bermanfaat
Adat perlu dijunjung
mufakat, tolong-menolong
bermasyarakat dan jangan kikir

Kelakuan (jelek) ketika bujang
hendaklah ditinggalkan
saat telah beranjak dewasa
Sanak famili harus diketahui
terhadap siapa pun
berbudi bahasalah yang baik

Pandai-pandailah mengalah
patuh pada kakak yang sulung
istri kakak maupun bibi
Apa pun yang diperintah
jangan mengatakan malas
itu perkataan pemali

Terhadap paman dan bibi
bertutur sapalah yang baik
janganlah tidak ada perhatian
Pada saat luang
berkunjunglah kalian berdua
jangan datang hanya saat perlu

Peribahasa para leluhur
masih belum ketinggalan
hingga zaman sekarang
Pakailah ilmu padi
menunduk tanda berisi
tegak tandanya hampa

Referensi Bacaan:

Sanusi, A. Effendi. 1996. Sastra Lisan Lampung Dialek Abung. Bandar Lampung: Gunung Pesagi.

Sanusi, A. Effendi et al. 1996. Struktur Puisi Lampung Dialek Abung. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Sanusi, A. Effendi. 1999. Sastra Lisan Lampung. Bandar Lampung: Buku Ajar FKIP Unila.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 Komentar

  1. Asalammualaikum bapak /ibu guru sekarang saya sudah mengerti karna sudah membaca materi sampai selesai

  2. Agak susah ya kayanya bahasanya. Aku malah baru tau klo bahasa Lampung sprt itu. mungkin klo ada yg ngomong bhasa Lampung secara langsung aku ngga tau klo dia org Lampung …
    seru yaa belajar bahasa dan budaya adat istiadat.

  3. Baru tau di Lampung juga ada bermacam-macam dialek yaa.. aku pernah tinggal di Lampung 5 tahun sampai selesai SMA tapi di kotamya, jadi kurang paham dengan bahasa Lampungnya sendiri

  4. Menarik ya salah satu jenis kebudayaan peppacur yang bisa menjadi media utk pelestarian budaya Nusantara salah satunya Lampung.
    Jika selama ini mayoritas lebih ke highlight tari, alat musik dan beberapa lainnya. Rupanya tiap wilayahnya pun punya karakteristik sastra yg juga tidak kalah unik

  5. Ada tetangga saya yang punya istri orang lampung. Saya pernah lihat foto-foto pernikahannya di sana. Katanya memang ada pepaccur ini juga, kalau di jawa kami biasa menyebutnya ular-ular, nasihat untuk mempelai sebelum menjalani kehidupan berumahtangga

    1. Walaikumsalam,wr.wb. Untuk sementara saya buat versi unlock page. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Terima kasih.